Sejarah

Sejarah

Sub Spesialis Ilmu Penyakit Dalam

Perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran yang semakin pesat telah memungkinkan telaah masalah-masalah medis menjadi lebih mendalam dan paripurna. Pada saat yang sama masyarakat juga semakin kritis dalam menyikapi kemampuan tenaga medis dalam mengelola masalah kesehatan. Untuk itu diperlukan tenaga kesehatan profesional dengan kualifikasi tinggi untuk menyelesaikan masalah penyakit dan kesehatan yang kompleks dengan kesulitan yang tinggi atau disebut kasus superspesialistik.

Di Indonesia, tingkat dan jangkauan pelayanan kesehatan super-spesialistik khususnya bidang Ilmu Penyakit Dalam masih rendah dan merupakan permasalahan yang perlu dipecahkan oleh para ahli yang berkecimpung di bidang keilmuan terkait masing-masing. Program pemerintah yang akan bergabung dalam AFTA (TheĀ ASEAN Free Trade Area) era globalisasi di tahun 2010, memacu kita untuk berbenah diri dalam menghadapi persaingan bebas tersebut. Untuk menangani kasus-kasus super-spesialistik diperlukan tenaga kesehatan profesional dengan kualifikasi pendidikan profesi tertinggi yakni Dokter Sub Spesialis. Kualifikasi sebagai Dokter Sub Spesialis dihasilkan melalui jenjang pendidikan profesi ke-3 (Third Professional Degree) atau pendidikan Sub Spesialis. Seperti diketahui, saat ini jumlah Dokter Sub Spesialis di bidang Ilmu Penyakit Dalam masih terbatas dan semuanya terdapat di kota-kota besar.

Oleh karena itu Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga / Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo merasa perlu untuk membuka Program Pendidikan Dokter Sub Spesialis Penyakit Dalam dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga profesional di tiap kekhususan pada cabang Ilmu Penyakit Dalam.

Dalam program studi ini terdapat 7 (tujuh) kekhususan cabang Ilmu Penyakit Dalam yaitu :

  1. Alergi Imunologi Klinik
  2. Endokrinologi, Metabolisme dan Diabetes
  3. Gastroenterohepatologi
  4. Ginjal Hipertensi
  5. Hematologi Onkologi Medik
  6. Penyakit Tropik dan Infeksi
  7. Reumatologi